Minggu, 01 Februari 2009

Tentang Sepertiga Perempuan Menuju Senayan


sebelum dibaca ada baiknya saya jelaskan terlebih dahulu. postingan ini bukan karena saya lagi sok abot, tapi semata hanya tugas liburan, dari majalah equilibrium. bukan buat dimuat sih, makanya saya pikir agak mubazir. makanya saya posting aja. selamat baca^^


Perayaan setahun sekali Hari Kartini tiap 21 April mengingatkan kita pada hakikat kesetaraan gender. Wanita bukanlah lagi objek semu, gambaran kepasrahan dan ketidakberdayaan. Kini mereka merdeka dan bebas berkarya. Tidak terbatasnya ruang lingkup wanita, kini merengkuh sendi kehidupan politik. Wanita Indonesia yang diharapkan tangguh duduk di kursi-kursi perwakilan rakyat. Tahun ini dirancang sepertiga bagian bagi mereka. Namun setelah keputusan caleg terpilih adalah dengan suara terbanyak, apakah tetap layak wanita melenggang untuk 30% kursi hanya dengan alasan memenuhi jatah?
Gonjang-ganjing pemilu. Frase itu yang kiranya tepat untuk merangkum semua pemberitaan penting di media seluruh Indonesia beberapa bulan belakangan. Semakin dekat, sekitar enam puluh hari lagi, kita semua akan berpesta mengenyam nikmat hidup di negara demokrasi. Pesta ini agaknya banyak berbeda dengan yang terdahulu. Pasca ketokan palu Ketua Mahkamah Konstitusi tentang penentuan wakil rakyat dengan suara terbanyak, berbagai pihak mengaku puas, tetapi yang lainnya kecewa lantaran segunung argumen yang juga berdasar. Salah satu argumen yang cukup kuat adalah berkaitan dengan kebijakan penempatan 30% kursi bagi perempuan. Bila caleg terpilih adalah mereka yang mendapat dukungan terbaik, maka undang-undang mengenai pengkaderan wanita tidak akan berjalan sesuai rencana, karena bisa saja semua yang mendapatkan suara terbanyak adalah kaum pria. Komisi Pemilihan Umum yang notabene tidak berhak melakukan interfensi terhadap keputusan pemilu angkat bicara bahwa apapun yang terjadi nanti, harus tetap ada 30% wanita di DPRD dan DPR.
Sedikit mengulas tentang situasi bila suara terbanyaklah yang menentukan kemenangan seorang calon legislatif. Ibarat kata, pertempuran makin sengit, dan mereka yang bertarung akan mengeluarkan segenap kekuatan untuk menjadi yang terbaik. Hal yang dikawatirkan adalah mereka yang berkantung tebal akan diuntungkan atas kondisi ini, semuanya berkutat pada pemilih, bukan lagi keberuntungan nomor urut. Inilah yang mendasari anggapan bahwa perempuan akan sulit mengenyam jalan lurus menuju kursi dewan.
Merujuk kepada asas keadilan, misalnya saja digambarkan bahwa satu partai memperoleh sembilan kusi di daerah X, urutan 1-8 diduduki oleh pria, dan 9-12 wanita. Bila 30% harus wanita, maka otomatis para pria di posisi tujuh dan delapan, harus rela digeser oleh wanita posisi sembilan dan sepuluh, sedangkan si sebelas duduk di kursi terakhir. Andaikan data kongkretnya, pria posisi tujuh mendapatkan 3000 suara, wanita posisi sembilan 1000, apakah ini adil? Bahkan pria posisi tujuh ini harus memberikan kursi terakhir kepada wanita ke sebelas yang hanya dapatkan 200 suara. Pria posisi delapan pun harus kecewa berat, mengingat 1800 suara yang ia dapatkan ternyata sia-sia dibanding 1000 suara yang didapat seorang wanita.
Analisis terakhir, mengenai harkat riil seorang wanita. Bukankah putusan ini tampak seperti sekadar belas asih atas segala keterbatasan mereka? Padahal tidak sedikit wanita di negeri ini yang mempunyai potensi besar dan diyakini mampu berdiri sejajar dengan pria. Sebenarnya tanpa alasan 30% pun, bila seorang wanita memang layak untuk jadi anggota dewan, ia tetap akan duduk di kursi itu.
Arti sesungguhnya dari pemilihan umum adalah bukan bagaimana seseorang menaiki tangga kekuasaan, tetapi bagaimana rakyat memulai lembaran baru di negara dengan pemimpin yang punya kekuatan besar dan mampu mengubah kehidupan mereka ke arah yang lebih baik.
Habis gelap terbitlah terang, begitu kata R.A. Kartini. Setelah berabad-abad masa suram kita alami, kini saatnya wanita bangkit. Kebangkitan menuju eksistensi bukan dengan berunding hebat memperjuangkan kemurahan hati sebagai medianya, seperti yang kini dilakukan oleh beberapa anggota KPU perempuan. Kekuatan kita sendirilah yang dapat memancarkan eksistensi tersebut. R.A.Kartini tidak pernah meminta sebuah sekolah lengkap untuk diisi pelajar wanita, bukan? Beliau menyusun keping demi keping harapan dan perjuangan menjadi sejuntai kalung indah sebagai hiasan bagi wanita, lebih dari kecantikan semata. Sama halnya, wanita bisa melenggang ke Senayan tanpa harus dijadikan pelengkap memenuhi tempat mereka, justru persaingan yang sesungguhnya baru dimulai bila mereka disejajarkan dengan pria.rahmia.

19 komentar:

adrie primera mengatakan...

Setuju bgt!

Salam Bangkit Indonesia!

meauwlycious mengatakan...

tengso bung adrie

Fu! mengatakan...

bagus mi.. hehheh

RIA ^^ mengatakan...

tapi aku ga suka pemilu skrg
politik industri ra si..

Tapi kyknya emg sementara itu cara terbaik.
hhe.

Radityo Akhmedika Fauzie mengatakan...

Aku sih percaya,niscaya Alloh tidak membeda2kan kapabilitas ciptaan nya hanya berdasarkan kromosom yang Y atau X,jadi pensejajaran wanita dgn pria ya memang sudah semestinya.

Kecerdasan manusia aja secara genetik dibawa oleh ibunya, karena saat 14 jam setelah fertilisasi, sel sperm yang masuk ke ovum, akan melepas dan membuang "ekor" nya, yang mengandung mitokondria,yg mengandung genetik ATP dari sang ayah.. kesimpulannya, faktor genetis kecerdasannya cuma dari ibu kan..
maka,
anak cerdas --> karena perempuan yang cerdas pula..

ollich's vanilla pheromone mengatakan...

"Bukankah putusan ini tampak seperti sekadar belas asih atas segala keterbatasan mereka? Padahal tidak sedikit wanita di negeri ini yang mempunyai potensi besar dan diyakini mampu berdiri sejajar dengan pria"

aku juga sering ngerasa gitu mi,,

btw tulisanmu bagus. aku suka..

rizkabukansimsimapalagisimbah mengatakan...

He'eh. Kayaknya sekarang wanita dah nggak butuh belas kasih macam itu.
Kok nggak dimuat, mi? eman-eman...

iNDy mengatakan...

Radityo said:
Kecerdasan manusia aja secara genetik dibawa oleh ibunya, karena saat 14 jam setelah fertilisasi, sel sperm yang masuk ke ovum, akan melepas dan membuang "ekor" nya, yang mengandung mitokondria,yg mengandung genetik ATP dari sang ayah.. kesimpulannya, faktor genetis kecerdasannya cuma dari ibu kan..
maka,
anak cerdas --> karena perempuan yang cerdas pula..

lho, dalam proses fertilisasi itu, ayah bertanggungjawab untuk mendonorkan beberapa bahan yg penting, 1. SOAF (tanpa ini telur ngga bisa membelah dan gag jadi manusia), 2. Materi genetik!!! (kepandaian bisa turun dari ayah juga karena ayah juga MEWARISKAN kode genetik dalam spermanya) 3. Sentriol (utk pembelahan juga)

Intinya saya kurang setuju jika kepandaiaan saya hanya sumbangan dari ibu saja (walaupun saya sendiri perempuan),saya percaya kepandaian saya juga warisan dari ayah saya

Radityo Akhmedika Fauzie mengatakan...

mi, maap ya numpang nulis lagi..
For ms.Indy:
begini,SOAF, sentriol, itu cuma media pendukung pembelahan sel. Tau kan kalo penyusun sentriol itu Mikrotubulus?? mikrotubulus sendri apa, dia polimer dari tubulin kan??
tubulin sendiri apa, dia komponen protein yang strukturnya gak mengandung gula ribosa kan??
kesimpulannya, dia gak punya komponen asam nukleat yang merupakan faktor genetis.
Oke, tentu genetik ayah dan ibu memang faktor genetik dari anak, tapi tau gak bahwa kromosom 15 dan 17 yang menyusun neuron2 CNS(otak dan medula oblongata), itu pada sel gamet pria 87% terkandung pada mitokondria, yang pd sel sprem, terdapat pada ekor yang di jam ke-14 akan di digesti.
So, It's come still and supposed to from your mother..
-Langman,Medical Embriology -

meauwlycious mengatakan...

for mba Fu': kan didikan mbak fu di progresif.hhhehehehe

gel2: itu proses politik, masyarakat yang ikut membuat keadaan itu berlangsung nampaknya.

radit: iyah..setuju deh.banyak perempuan tangguh. tapi lebih banyak wanita super tangguh di balik lelaki yang tangguh.

etak: tengkii.kita memang wonder woman

indy-radit:hedeh. aku ga dong. tapi tengs atas perhatiannya^^
simsim:bener bgt. aku ga mendiskreditkan perempuan, tapi, aku ga mau wanita dianggap menang bejo doang

RCO mengatakan...

Semoga Pemilu mendatang sukses tanpa banyak rintangan.

Salam kenal. MERDEKA!

Ucok mengatakan...

Edyannn...
"Habis gelap terbitlah terang", sayangnya terlalu sedikit orang di Indonesia yang menyadari bahwa "Indonesia" sedang "gelap". Ato malah "Indonesia" sudah terbiasa dengan "gelap"???
Untung ada beberapa orang Indonesia yang menyadari "gelap" itu (salah satuny kamu).
Mudah2an wanita2 yang menuju Senayan setidaknya menyadari ini, dan mampu menerbitkan "terang" itu.

Emang dilematis sih penetapan peraturan yang satu ini. Kalo pake yang satu, ada ruginy. pake yg satuny lg juga ad ruginy.

Trus, kalo sampe kejadian kaya' ilustrasi d daerah X tjadi, bukankah hal itu malah "memperkosa" hak caleg pria tsb?

Aturan 30% itu justru memperkuat kesan bhwa cewek di bawah cowok. Cewek selalu lebih lemah...
Indonesia tidak butuh peraturan seperti ini.

Sebagai PRIA saya mengatakan, "majulah wanita Indonesia, majulah Indonesia!!! Terbitkan terangmu!!!"(mungkin pernyataan ini tdengar kebencong-bencongan, tapi itu hanya bagi org2 yg otakny tlalu smpit, dan hany berkutat dipersoalan genital dan gender.hehe)
Asal kemajuan wanita itu jangan sampai "memperkosa" kami, para pria.HAHA...

jufrizal mengatakan...

salam kenal

ting..tong....

kaburrrr......

meauwlycious mengatakan...

benar bung ucok..
setuju.
saya yakin banyak wanita indonesia yang cerdas, kuat, dan berdedikasi tinggi..

RIA ^^ mengatakan...

huehehe. aku juga pernah denger dri guru biologi ku bahwa kecerdasan di dapat dari ibu.
CMIIW
kLo cowok pinter pasti dri ibunya. Tapi klo cewe pinter bisa karena turunan bapaknya juga. Ya ga?
Aku cuma dgr dri guruku. Itupun klo ga salah inget.

Mi, itu pertanyaan ga buat kamu kok. Haha...

copey lagi mengatakan...

aku suka postinganya mia..haha.
emm..kalo menurutku sih, knapa wanita cerdas tu jarang terdengar gaungnya di indonesia kayaknya karna budaya aja deh..hehe.
semacam, cewe harusnya nikah umur 25 a, walaupun secara biologis itu masa suburnya wanita, lalu knapa?
begitu loh..jadi, wanita indonesia masih banyak yang berhenti berkarya setelah nikah, karna punya anak. padahal, nggak apa lo..walaupun udah nikah, jangan punya anak dulu.. atau nikahnya jangan buru2..
katanya sih, takut jadi perawan tua. tapi sebenarnya, apakah jadi single sampe tua itu salah?(nggak nyambung, sori,, haha )
btw, dosenku banyak yang feminis loh..hehe. dan mereka independen secara materi dan finansial.

meauwlycious mengatakan...

cope medeni..jangan cop.uda nikah juga bisa berkarya.mamaku bergaya ala pekerja depsos setiap hari.itu mungkin bidang yang tepat.

gel:sippo gel..

p4p4n6 4j4 mengatakan...

wah bagus nih tulisannya..tapi sayang saya bacanya telat..he4

Kalo menurut pendapat pribadi saya.
Memang banyak wanita indonesia yang hebat dan bahkan terkadang mampu mengungguli kualitas kaum adam.
Namun menurut saya, intervensi KPU bukan dikarenakan oleh rasa belas kasihan, tapi lebih merujuk pada PERLINDUNGAN.

Kenapa saya bisa berpikir seperti itu?
Jadi gini, sebelumnya saya mohon diluruskan jika ternyata pola pikir saya agak berbeda, maklum saya bukan pakar di ranah politik dan sosial.
Saya melihat dan menyadari bahwa banyak jutaan orang indonesia yang bisa dibilang adalah tipe orang yang malas berpikir (entah karena tingkat pendidikan yang rendah ato lingkungan). Seandainya mereka harus berpikir itupun hanya sekedar untuk mencari cara bagaimana memperoleh uang untuk mencukupi kebutuhan pokok mereka, bahkan jika pada akhirnya mereka punya duit lebih, itupun juga cuma untuk memenuhi kebutuhan yang bersifat hedonis dan matrealis.
Menurut saya, orang² seperti itulah yang menjadi sasaran empuk bagi para caleg yang berkantong tebal untuk menjadi target 'promosi'.
Kita juga sering melihat terkadang ada caleg² kelas kakap berkantong tebal melakukan ekspansi dengan cara yang mungkin bisa memikat hati orang² yang malas berpikir, ya mungkin seperti memberi uang mentah, ato mungkin memberi fasilitas² (entah itu kaos ato sekedar alat tani), ato mungkin juga memberi janji² bombastis akan kehidupan yang lebih baik dimasa mendatang.
Dan kita harus mengakui bahwa cara² tersebut sangat ampuh untuk mempengaruhi mayoritas masyarakat indonesia dalam 'menyumbangkan' suaranya pada pemilu mendatang.
Maka, bukan hal yang mustahil jika orang² yang menjadi objek kampanye tersebut hanya terfokus pada caleg bermodal dana besar dari 1 ato 2 partai saja yang menurut mereka oke untuk dipilih di pemilu mendatang.

Lalu gimana dengan nasib caleg dari partai lain yang tidak menjadi fokus dari calon pemilih?

Menurut saya, karena mayoritas pemilih adalah tipe yang malas berpikir, saya dapat berasumsi bahwa kelak pemilih akan melakukan 'asal pilih' pada caleg yang bukan menjadi fokus mereka, a.k.a 'waton nyentang'.
Kalau mengaplikasikan chaos theory dalam kasus 'waton nyentang', maka kemungkinan besar para pemilih akan mencontreng nama caleg (yang bukan menjadi fokus pemilih) yang pertama kali mereka LIHAT di tabel tiap partai. Dengan kata lain, yang kepilih hanya caleg yang punya nomor urut 1 dan kalau mempertimbangkan marjin erornya maka caleg nomor urut 2 dan 3 juga punya kemungkinan besar untuk 'tak sengaja' kepilih.

Bagi saya ini merupakan masalah besar, karena kalau saya melihat kenyataan di lapangan, caleg wanita umumnya tidak mendapatkan nomor 'cantik' itu (nomor urut 1, 2, dan 3). Nyaris semua nomor 'cantik' di tiap partai itu di huni oleh kaum pria, ya memang ada wanita yang punya nomor 'cantik', tapi sejauh ini saya hanya melihat sedikit sekali.

Jadi itulah alasan saya mengatakan bahwa KPU ingin melindungi kaum wanita.

Ok, itu cuma pendapat saya, kalau salah tolong diluruskan, karena saya adalah orang yang bangga dalam mengakui kesalahan yang saya buat.

Salam Dahsyat!

meauwlycious mengatakan...

begini bung papang, sebenarnya di beberapa daerah juga banyak wanita mendapat nomor cantik, walaupun harus kita akui lebih banyak kaum pria yang mendapatkan.

pimpinan redaksi saya berkata bahwa tulisan saya ini cacat fakta, dia mempertanyakan apa hubungan antara pria berkantung tebal dengan risiko tidak terpilihnya wanita?

saya setuju, karena memang saya hanya membaca info itu di koran, tanpa tau alasan kuatnya.

karena tulisan saya asalah opini, saya tidak mempertimbangkannya di awal.

terima kasih atas apresiasi Anda, semoga bisa menambah kemampuan saya menulis..

salam..